FOMO Marketing: Antara Strategi dan Manipulasi

FOMO Marketing

Daftar Isi

Anda pasti pernah lihat iklan dengan tulisan “Sisa 3 menit lagi!” atau “Hanya untuk 100 orang pertama!” pas lagi asik scrolling atau nonton live shopping. Terus, saking takut ketinggalan, tiba-tiba Anda sudah checkout saja, persis kayak orang kena hipnotis.

Image
Tapi tunggu dulu. Sebelum Anda menyalahkan diri sendiri, saya harus bilang, kalau ini bukan kesalahan Anda, kok. Ini emang di-design untuk terjadi.

Sepengalaman saya, strategi ini tuh emang jago banget ngebuat jualan laris manis, tapi kalau salah pakai, ini bisa jadi jebakan yang merusak nama baik brand itu sendiri.

Apa Itu FOMO dan Kenapa Otak Kita Mudah Terpancing?

FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah Istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Patrick McGinnis, seorang penulis pada sekitar tahun 2013.

FOMO (Fear of Missing Out) adalah rasa takut ketinggalan sesuatu yang seru yang lagi dinikmati orang lain. Secara psikologis, kita semua punya insting buat pengen jadi bagian dari sesuatu yang ramai, kok. 

Makanya, jangan heran kalau 60% orang langsung belanja cuma karena takut ketinggalan tren, dan biasanya itu dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Perasaan “takut nggak relevan” inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh para marketer untuk menjual berbagai produk mereka.

Cara FOMO Marketing Memanipulasi

Biasanya, brand pakai tiga cara ini untuk bikin Anda FOMO:

Kelangkaan (Scarcity). 

Pakai kalimat “Sisa 3 item!”. Otak kita sudah terprogram untuk mengejar barang yang susah didapat, meskipun sebenarnya kita nggak butuh-butuh amat

Urgensi (Urgency). 

Pakai countdown timer atau promo “berakhir malam ini”. Tujuannya supaya Anda merasa tertekan dan nggak sempat berpikir jernih.

Validasi sosial (Social Proof). 

Pamer kalau “1.200 orang sudah beli hari ini” atau pakai review dari KOL. Kita jadi merasa harus ikut beli karena semua orang di sekitar kita lagi ngomongin itu.

FOMO Marketing: Garis Tipis Antara Strategi dan Manipulasi

Sebenernya ya, FOMO marketing ini bak pisau bermata dua. Dia jadi bisa menjadi strategi yang powerfull dan etis kalau memang stoknya beneran sedikit dan promonya beneran terbatas. Sesuai dengan apa yang diumumkan ke audience. 

Tapi, kalau Anda pakai timer palsu yang terus reset tiap kali halaman di-refresh, atau bohong soal sisa kamar hotel padahal aslinya masih banyak, itu namanya manipulasi. Contohnya seperti Booking.com yang pernah kena masalah hukum gara-gara bohong soal stok kamar.

Nah, pada titik ini, brand harus hati-hati. Karena, ketika konsumen sadar mereka “dijebak”, bukan cuma kecewa yang muncul, tapi rasa percaya mereka juga bakal hilang selamanya.

Apa yang Terjadi Saat Audiens Mulai Sadar?

Taktik ini mungkin bikin jualan naik sekarang, tapi jangan salah loh, efek jangka panjangnya bikin konsumen muak alias kena buyer’s remorse atau perasaan menyesal setelah melakukan pembelian.

Riset bilang kalau 45% orang yang belanja karena panik (impulsif) akhirnya menyesal. Kenapa? Yaaa, karena sebenernya kan mereka merasa dipaksa beli sesuatu yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Cuma caranya aja yang halus, karena mainin sisi psikologisnya.

Nah, karna udah banyak yang ngerasa ini gak sehat, akhirnya sekarang ini nih, mulai muncul tren slow fashion dan belanja lebih sadar dibarengin sama berbagai gerakan, salah satunya dengan menghindari over consumption yang mulai muncul di TikTok.

Image
Source: https://www.tiktok.com/@itscasriani

Orang-orang mulai malas “diatur-atur” emosinya sama brand. Kalau brand terus-terusan agresif, brand nggak cuma kehilangan kepercayaan, tapi juga kehilangan pelanggan loyal yang beli karena percaya, bukan karena takut.

Apakah FOMO Marketing Masih Relevan, Atau Sudah Waktunya Ditinggalkan?

Walaupun terkesan kaya memanipulasi, FOMO marketing tuh sebenernya nggak akan hilang gitu aja atau bahkan harus ditinggalkan sepenuhnya kok. Tapi cara mainnya sudah akan bahkan harus berubah total dari yang sebelumnya. 

Pemerintah di berbagai negara sekarang sudah membuat regulasi yang semakin ketat buat meminimalisir hal seperti itu. Bahkan ya, di luar negeri, sudah banyak brand besar yang kena denda karena pakai strategi FOMO marketing yang membuat seolah-olah darurat untuk segera membeli produk mereka, padahal bohong. 

Tapi, kalau dari sisi marketing tuh masalahnya bukan cuma soal hukum atau regulasi yang ditetapkan pemerintah, karena sebenarnya dan masalah utamanya itu adalah konsumen sekarang sudah makin pintar.

Mereka tahu kalau “stok tinggal 1” itu sering kali cuma akal-akalan. Begitu mereka tahu kalau mereka dibohongi, mereka bakal cerita ke mana-mana dan mengajak orang lain buat nggak beli.

Jadi, selalu usahakan untuk jujur ya!

Jangan Anggap Hanya Sebagai Angka

Pada akhirnya sih ya, gimana cara brand memanfaatkan strategi FOMO marketing ini, bisa menunjukkan bagaimana cara brand memandang audiens-nya.

Kalau Anda menganggap audiens cuma sebagai target yang gampang dipancing emosinya—misalnya dengan sengaja melempar statement rage bait demi memicu reaksi—sebenarnya sayang banget. 

Karena ya, strategi yang cuma mengandalkan emosi negatif seperti ini biasanya nggak akan bertahan lama. Memang sih, cara ini ampuh buat bikin orang cepat-cepat di-notice sama audiens. Tapi begitu mereka sadar emosinya cuma “dimainkan”, mereka bakal kapok dan nggak mau balik lagi.

Beda ceritanya kalau brand bisa menghargai mereka sebagai manusia yang emang suka kejujuran dan ketulusan. Di sini, FOMO nggak lagi jadi alat buat maksa, tapi jadi info yang berguna buat bantu mereka mengambil keputusan belanja yang tepat. 

Karena ujung-ujungnya, perhatian mungkin gampang didapat lewat rasa takut atau emosi sesaat, tapi cuma kejujuran yang bisa bikin pembeli jadi pelanggan setia Anda.

Bagikan:

Baca juga:

Scroll to Top