Pentingnya Hook Dalam Konten: Dari Kacamata Audiens

Untitled design (4)

Daftar Isi

Pernah dengar para content creator dan pengajar digital marketing bilang “yang penting hook dalam konten-nya harus menarik”?

Pernyataan itu adalah benar adanya. Di era internet yang apa-apa serba cepat seperti sekarang ini, audiens tidak akan secara sengaja stay di konten yang hook pada konten-nya tidak menarik. 

Hanya dalam beberapa detik, audiens bisa memutuskan ingin stay di konten yang dilihatnya atau lanjut scroll.

Nah, inilah peran hook—yaitu sebagai pancingan bagi audiens agar mereka bisa berhenti scroll dan mulai memperhatikan konten yang kita buat. 

Untuk bisa membuat hook yang bisa membuat audiens berhenti untuk scroll ke konten selanjutnya, dibutuhkan hook yang menarik dan juga relevan.

Namun, sebelum itu, ada baiknya Anda mengetahui apa itu hook dan alasan kenapa hook bisa membuat audiens berhenti scroll dan memperhatikan konten yang Anda buat.

Apa itu Hook?

Hook adalah bagian awal dari konten yang fungsinya sebagai pancingan agar audiens yang dituju mau memperhatikan konten yang telah dibuat oleh content creator. 

Mengapa Hook Dalam Konten Sangat Penting?

Hook dalam konten dirasa sangat penting, karena bisa menentukan selanjutnya dari audiens. 

Ada penelitian dari Vista Social yang menunjukan bahwa 8 dari 10 orang yang menjadi audiens akan membaca headline, tapi hanya 2 dari 10 yang akan mengklik artikel. Ini menjadikan hook pada konten bukan hanya sebagai pembuka; tapi merupakan sebuah langkah penting dalam pengambilan keputusan audiens. 

Nah, maka dari itu sangat penting untuk Anda bisa membuat hook yang menarik untuk audiens. Kenapa? Hal ini berkaitan erat dengan psikologi manusia yang bisa disebut sebagai Neurosains tentang perhatian.

Ini menjelaskan tentang rasa ingin tahu yang dimiliki seseorang merupakan dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Jika seseorang belum merasa tahu, ia akan merasa tidak nyaman, sehingga membuat orang itu tetap bertahan dan terdorong untuk mencari sebuah penjelasan

Pemicu psikologis ini dikenal sebagai curiosity gap—yaitu kecenderungan otak untuk menutup kekosongan informasi ketika ada sesuatu yang dirasa belum lengkap.

Kekosongan informasi bisa diterapkan di hook yang sebenarnya memberikan informasi yang tidak lengkap atau setengah setengah. Nah, informasi yang tidak lengkap ini akan terbaca oleh otak sebagai masalah yang harus diselesaikan. 

Bagaimana penyelesaiannya? Yaitu dengan stay sampai akhir di konten tersebut sampai menemukan jawabannya. 

Membuat Hook Untuk Berbagai Jenis Konten

Setelah mengetahui alasan hook bisa menjadi penentu keputusan audiens, selanjutnya adalah bagaimana caranya membuat hook untuk berbagai jenis konten seperti tulisan, video, atau bahkan hanya audio?

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk membuat hook di berbagai konten seperti teks, video, maupun audio.

Ketegangan atau Kontradiksi

Hook bisa diformulasikan dengan memberikan sebuah tekanan atau sesuatu yang berlawanan satu sama lain, dan menimbulkan masalah di kepala yang akhirnya membuat audiens merasa “kok bisa sih?”

Contoh hook yang kontradiksi: 

Selebgram dengan 20 juta followers ini tidak bisa menjual 1 pun merchandise exclusive-nya di hari peluncurannya!

Hook di atas akan menarik banyak orang untuk stop scrolling dan stay di konten tersebut. Hal ini terjadi karena otak manusia selalu ingin menyelesaikan ketegangan yang muncul di dalam otaknya. 

Hook yang Memantik Emosi

Selanjutnya adalah hook yang menggambarkan suatu keadaan atau momen yang dirasa bisa memancing emosional dari audiens.

Contoh hook yang memantik emosi:

Klien gue hilang tanpa kabar dua jam sebelum acara launching!

Hook ini bisa berhasil karena audiens bisa menangkap perasaan marah, gelisah, dan berbagai emosi lainnya yang dirasakan oleh creator. Sehingga audiens akan dengan senang hati menyimak konten yang dibagikan. 

Mengganggu Pola yang Seharusnya

Untuk hook jenis ini, bisa sangat cocok diterapkan pada konten untuk platform yang feed-nya dipenuhi dengan tulisan panjang dan intro yang bertele-tele seperti LinkedIn, Threads, atau X. 

Hook jenis ini memiliki pembukaan yang pendek, tidak utuh, dan bisa menonjol secara visual. 

Contoh hook jenis pattern disruption:

Unpopular opinion: Makan Bubur Diaduk Adalah Sebuah Penghinaan Pada Makanan

Kalau mau memakai hook jenis ini, bisa dibilang headline sama dengan hook. Sehingga tidak perlu memikirkan hook lanjutan

Kesalahan Dalam Membuat Hook

Tentu membuat hook yang menarik dan membuat audiens stay pasti tidak mudah. Tapi, seenggaknya, jangan melakukan hal-hal yang menjadi kesalahan dalam membuat hook di bawah ini ya!

Terlalu Umum

Jangan buat hook yang terlalu umum dan luas. Contohnya seperti: “tips marketing untuk pemula”. 

Hal itu perlu dihindari karena otak audiens tidak menemukan alasan buat berhenti scrolling karena tidak spesifik dan tidak ada masalah yang menarik. 

Terlalu Panjang

Salah satu kriteria hook yang bagus adalah spesifik. Tapi, jangan detail juga. Karena hook yang detail akan menjadi terlalu panjang dan membuat audiens menjadi tidak penasaran lagi. 

Anda hanya mempunyai waktu di-1 sampai 2 detik pertama untuk memakai hook di konten Anda agar memancing audiens. Lebih dari itu, audiens akan lanjut scrolling tanpa memedulikan konten Anda. 

Asal Keren

Hook itu bukan ajang keren-kerenan, tapi sebuah kalimat yang jelas tentang keseluruhan isi konten. Jangan membuat hook dalam konten yang puitis, menggunakan majas metafora yang sulit dipahami orang lain. 

Karena, lagi-lagi, sesuatu yang rumit akan selalu ditinggalkan. 

Bagikan:
Scroll to Top